WASHINGTON – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi bahwa asteroid masif yang dijuluki “Dewa Kekacauan” dijadwalkan akan melintasi wilayah orbit Bumi dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.
Kendati ukurannya setara dengan tiga lapangan sepak bola, para ahli memastikan bahwa fenomena astronomi ini tidak menimbulkan ancaman tabrakan terhadap planet kita.
Asteroid yang memiliki nama resmi Apophis tersebut—diambil dari nama dewa Mesir kuno yang melambangkan kegelapan dan kekacauan—diprediksi akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 13 April 2029.
Berdasarkan data teknis NASA, batuan ruang angkasa kolosal ini akan melaju pada ketinggian sekitar 20.000 mil di atas permukaan Bumi, sebuah jarak yang secara signifikan lebih dekat dibandingkan posisi orbit sejumlah satelit buatan manusia.
Pihak otoritas antariksa menyatakan bahwa satelit-satelit dengan orbit tertinggi biasanya berada pada ketinggian 22.000 mil dari garis ekuator. Meski Apophis sempat diklasifikasikan sebagai “asteroid yang berpotensi berbahaya”, NASA berupaya menenangkan opini publik dengan menegaskan bahwa tidak ada risiko benturan dalam lintasan tahun 2029 mendatang.
Melalui pemantauan intensif selama bertahun-tahun, tim ilmuwan menyatakan keyakinan penuh bahwa objek luar angkasa tersebut tidak akan mengancam keselamatan Bumi setidaknya untuk satu abad ke depan.
“Dapat dipastikan tidak ada bahaya bagi Bumi, seluruh makhluk hidup, maupun para astronaut serta aset satelit di luar angkasa,” tegas perwakilan agensi tersebut dalam keterangan resminya.
Kendati demikian, peristiwa ini dipandang sebagai momentum emas dan peluang langka yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi dunia ilmu pengetahuan. Para peneliti berencana memanfaatkan kedekatan jarak ini untuk melakukan studi mendalam mengenai komposisi Apophis serta karakteristik asteroid serupa yang berada di sekitar orbit Bumi.
Bagi masyarakat di belahan Bumi bagian Timur, fenomena ini diperkirakan dapat disaksikan secara langsung dengan mata telanjang, bergantung pada kondisi cuaca setempat saat waktu pelintasan tiba.
Kehadiran Apophis pada 2029 diharapkan mampu membuka cakrawala baru dalam pemahaman manusia mengenai mitigasi bahaya objek antariksa di masa depan.

