Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat 1.700 pasien HIV yang rutin berobat sepanjang 2025. Mayoritas pengidap berada pada usia produktif, didominasi laki-laki. Di balik angka yang melambat, problem terbesar yang menghantui ribuan pasien adalah stigma dan diskriminasi di layanan medis.
BANDUNG — Data mencemaskan kembali menghantam Jawa Barat. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kini merawat sekitar 1.700 pasien HIV yang tercatat rutin menjalani pengobatan terapi antiretroviral (ARV). Angka tersebut, meski diklaim mulai melambat peningkatannya dibanding tahun-tahun sebelumnya, tetap menunjukkan skala sebaran virus yang masif.
Ketua Penanggulangan HIV RSHS, dr. Rudi Wisaksana, menyebutkan bahwa sebagian besar pasien berada dalam kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 40 tahun, dengan dominasi pasien laki-laki. Sebagian besar dari mereka menggantungkan pengobatan rutin pada layanan pembiayaan BPJS Kesehatan.
Namun, bukan hanya angka peningkatan yang menjadi sorotan. Tantangan terberat yang masih membelit ribuan pasien ini adalah ‘virus kedua’: stigma dan diskriminasi.
Rudi Wisaksana tidak menampik bahwa perlakuan diskriminatif masih terjadi, bahkan di dalam fasilitas medis. “Walaupun layanan sudah membaik, masih ada stigma dan diskriminasi. Itu menghambat layanan, menambah waktu, dan mempersulit pasien,” ujarnya.
Diskriminasi ini, menurut Rudi, menjadi ganjalan besar bagi tercapainya target ambisius ‘Ending HIV 2030’ yang berkomitmen untuk mengakhiri epidemi tersebut secara global. Stigma yang menghalangi pasien mengakses layanan, atau bahkan menjauhkan tenaga kesehatan, berpotensi menggagalkan upaya kolaborasi lintas sektor yang dibutuhkan untuk menuntaskan masalah ini.
Tenaga kesehatan, dalam konteks ini, memegang peran kunci. Pihak RSHS mengakui terus berupaya memperbaiki layanan agar lebih inklusif dan ramah. “Kami berusaha perbaiki agar layanan lebih ramah terhadap siapa pun. Mungkin [diskriminasi terjadi] karena kelelahan atau banyak pekerjaan, mereka tidak sengaja menstigma,” tambah Rudi, menggarisbawahi urgensi pembenahan internal.
Tingginya angka pasien usia produktif di RSHS Bandung ini menjadi cerminan bahwa penyebaran HIV di Jawa Barat masih membutuhkan intervensi yang jauh lebih agresif, tidak hanya dalam penyediaan obat dan layanan, tetapi juga dalam memangkas mata rantai diskriminasi yang membuat pasien takut keluar dari bayangan.

