JAKARTA, RIZKNEWS.COM – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, umat Muslim di berbagai penjuru dunia kembali bersiap menyambut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang penuh dengan kemuliaan.
Di antara amalan yang paling dianjurkan bagi kaum Muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci adalah menunaikan ibadah Puasa Sunnah Tarwiyah dan Puasa Sunnah Arafah. Kedua puasa ini dijadwalkan berlangsung berturut-turut pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah.
Eksistensi kedua hari mulia ini bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan memiliki akar sejarah yang sangat kuat, baik dari sudut pandang keteguhan batin para nabi terdahulu maupun dari runutan pelaksanaan manasik haji.
BACA JUGA >>> Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026, Pemerintah Gelar Sidang Isbat Akhir Pekan Ini
Menelisik sejarah Hari Tarwiyah yang jatuh pada setiap tanggal 8 Dzulhijjah, peristiwa ini erat kaitannya dengan fase awal ujian berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS. Pada malam tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi pertama dari Allah SWT yang berisi perintah untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS.
Setelah terbangun di pagi hari, Nabi Ibrahim tidak langsung mengeksekusi perintah tersebut. Sepanjang hari itu, beliau terdiam, merenung, berpikir keras, sekaligus menimbang-nimbang (yutarowwi) apakah lintasan mimpi tersebut merupakan wahyu suci yang datang dari Allah atau justru godaan halus dari setan.
Proses kontemplasi batin yang mendalam inilah yang mendasari penamaan hari tersebut sebagai Hari Tarwiyah. Selain itu, dari sisi tradisi ibadah haji, dinamakan Tarwiyah karena pada hari itu para jemaah haji mulai keluar dari Makkah menuju Mina untuk mengumpulkan dan membawa pasokan air (tarawwa) sebagai bekal persiapan wukuf di keesokan harinya.
Memasuki hari berikutnya, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal meluas sebagai Hari Arafah, sejarah mencatat titik terang dari keraguan Nabi Ibrahim AS.
Pada malam sebelum tanggal 9, Nabi Ibrahim kembali mendapatkan mimpi yang persis sama untuk kedua kalinya. Begitu fajar menyingsing di pagi hari ke-9, barulah sang nabi merasa yakin, mengetahui, dan memahami secara mutlak (‘arafa) bahwa mimpi tersebut adalah perintah sah yang datang langsung dari Sang Pencipta.
Berlandaskan keyakinan tanpa ragu itulah, Nabi Ibrahim membulatkan tekad untuk menjalankan perintah penyembelihan yang kelak menjadi asal-usul syariat kurban.
Di samping kisah Nabi Ibrahim, Padang Arafah juga diyakini sebagai tempat suci bertemunya kembali (ta’aruf) Nabi Adam AS dan Ibunda Hawa setelah ratusan tahun dipisahkan dan diturunkan ke bumi pada tempat yang berbeda. Tempat ini pula yang menjadi lokasi bagi Malaikat Jibril saat mengajarkan dan memastikan pemahaman (araftu) Nabi Ibrahim mengenai seluruh rangkaian manasik haji.
Bagi umat Muslim yang tidak sedang berada di sela-sela kepadatan ibadah wukuf di maktab-maktab Arafah, melaksanakan kedua puasa sunnah ini mendatangkan limpahan pahala yang sangat masif.
Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Puasa Arafah memiliki keutamaan khusus yang dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Sementara itu, Puasa Tarwiyah dipandang oleh para ulama sebagai amalan penyempurna untuk memasuki hari puncak penyesalan dan pengampunan di Hari Arafah. Kombinasi kedua puasa ini menjadi jembatan spiritual bagi kaum Muslimin di tanah air untuk ikut merasakan atmosfer kesucian, kepasrahan, dan keheningan batin yang sedang dialami oleh jutaan jemaah haji yang sedang berkumpul di Padang Arafah.
Bagi Anda yang berniat untuk menghidupkan sunnah muakkadah ini, pelaksanaan puasa dilakukan sama persis seperti puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.
Dianjurkan pula untuk melafalkan niat pada malam hari sebelum berpuasa demi memantapkan iktikad di dalam hati. Berikut adalah bacaan niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah yang disajikan dalam teks Arab, Latin, beserta arti lengkapnya:
Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Lafaz Arab:
Lafaz Latin:
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.
Terjemahan:
“Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Lafaz Arab:
Lafaz Latin:
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.
Terjemahan:
“Aku niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Dengan memahami rekam jejak sejarah serta besarnya ganjaran yang terkandung di dalam kedua hari mulia ini, sudah sepatutnya umat Muslim tidak melewatkan kesempatan emas tersebut begitu saja.
Puasa Tarwiyah dan Arafah bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum bagi setiap hamba untuk membersihkan jiwa, mengasah keikhlasan layaknya Nabi Ibrahim AS, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mari kita persiapkan diri fisik dan batin untuk menyambut datangnya hari-hari penuh ampunan ini, seraya berdoa agar segala amal ibadah kita senantiasa diterima di sisi-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa sunnah menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H. (RN-AHsb)


1 Komentar
Pingback: History of Tarwiyah and Arafah Fasting Ahead of Eid al-Adha 1447 H: Complete with Virtues, Procedures, and Niat Recitations - Halo Sumut