RIZKNEWS.COM | JAKARTA – Bosan dengan demokrasi yang berisik karena banyak protes? Tenang saja. Indonesia dikabarkan tengah melakukan rebranding besar-besaran menuju gaya pemerintahan yang lebih “setia kawan” dan “satu komando”.
Tren yang disebut-sebut sebagai “Indonesia Menuju Fasisme” ini kini menjadi topik hangat di kafe-kafe intelektual hingga grup WhatsApp keluarga yang hobi menyebar hoaks.
Para ahli “pemasaran politik” menilai bahwa gaya lama seperti mendengarkan kritik rakyat sudah dianggap outdated alias ketinggalan zaman. Sebagai gantinya, model baru ini menawarkan fitur-fitur canggih yang membuat masyarakat tidak perlu lagi repot-repot berpikir kritis.
Dalam narasi ini, pergeseran menuju fasisme dianggap sebagai langkah efisiensi nasional. Mengapa harus mendengarkan pendapat 270 juta orang jika hanya pendapat sepuluh orang di meja makan yang benar-benar penting?
Beberapa “pencapaian” yang mulai terlihat antara lain:
-
Harmonisasi Lembaga: Tidak ada lagi pertengkaran antar lembaga negara. Sekarang semua sudah “satu frekuensi”. Jika lembaga pengawas mulai menggigit, maka giginya akan dicabut secara konstitusional demi kenyamanan bersama.
-
Nasionalisme Kosmetik: Kecintaan pada tanah air kini diukur dari seberapa sering Anda memuji pemerintah di media sosial. Barangsiapa yang bertanya tentang data kemiskinan, akan langsung dianggap sebagai agen asing yang ingin merusak estetika pembangunan.
Teknologi Penjinak Massal: Algoritma “Iya Pak”
Di era digital ini, menuju fasisme tidak lagi membutuhkan kumis kotak atau pidato berapi-api di balkon. Cukup dengan pasukan “jempol pro-pemerintah” yang siap menyerbu siapa saja yang berani mengetik kata “tapi” di kolom komentar.
“Kami tidak membungkam suara, kami hanya merapikannya,” ujar seorang imajiner ahli strategi komunikasi. “Kalau ada ribuan orang protes di jalan, itu namanya macet. Kalau ribuan orang memuji di Twitter, itu namanya prestasi. Kami hanya fokus pada prestasi.”
Tren “Indonesia Menuju Fasisme” juga didorong oleh gelombang nostalgia akut. Masyarakat mulai haus akan sosok pemimpin yang kalau bicara tidak perlu pakai data, cukup pakai nada tinggi dan gestur menunjuk.
Seragam-seragam bergaya militer kini lebih laku daripada argumen hukum. Logika yang dipakai sederhana: jika kamu terlihat tegas dan punya banyak ajudan berpakaian safari, maka semua perkataanmu adalah kebenaran mutlak. Hukum bukan lagi panglima, melainkan ajudan yang bertugas membukakan pintu bagi kepentingan penguasa.
Secara teoritis, para intelektual menyebut fenomena ini sebagai “Otokrasi Berbunga”. Di permukaannya, Indonesia masih terlihat cantik dengan bunga-bunga pembangunan infrastruktur dan janji-janji kesejahteraan. Namun di bawahnya, akar demokrasi sedang digerogoti oleh rayap-rayap oligarki yang rindu akan ketertiban ala Orde Baru.
Indikator utamanya adalah hilangnya “Check and Balances”. Oposisi kini menjadi spesies langka yang lebih sulit ditemukan daripada Harimau Sumatera. Sebagian besar oposisi telah melakukan “migrasi musiman” ke dalam kabinet, membuktikan bahwa musuh politik sebenarnya adalah teman yang belum mendapatkan jatah kursi. (RN-AH)

