RIZKNEWS.COM – Ada masa ketika pergi ke warung terasa biasa saja. Kita masuk sambil membawa uang lima puluh ribu, lalu keluar dengan kantong penuh mi instan, telur, minyak, kopi, bahkan masih ada sisa untuk beli gorengan.
Sekarang? Kadang baru ambil minyak dan cabai saja, dompet sudah mulai mengirim sinyal darurat seperti alarm motor kena goyang kucing.
Indonesia sedang berjalan menuju 2029 dengan langkah yang terlihat optimistis di atas permukaan. Jalan tol bertambah, teknologi makin cepat, transaksi digital di mana-mana, dan anak muda semakin kreatif mencari uang.
Namun di balik itu, ada pertanyaan yang diam-diam menghantui banyak orang: apakah hidup lima tahun lagi akan lebih ringan atau justru makin menyesakkan?
Inflasi bukan hanya angka yang diumumkan di televisi. Ia adalah rasa cemas ibu rumah tangga saat harga beras naik. Ia adalah bapak yang mulai menghitung ulang uang sekolah anak. Ia adalah pekerja kelas menengah yang diam-diam mengurangi nongkrong bukan karena ingin hidup hemat, tapi karena saldo rekening mulai sensitif seperti hati orang habis ditinggal pas sayang-sayangnya.
Kelas menengah sering dianggap “aman”. Padahal justru merekalah yang paling sering berada di tengah badai. Tidak miskin sehingga jarang dapat bantuan, tapi juga tidak benar-benar kaya sehingga setiap kenaikan harga terasa langsung di dada. Kadang hidup kelas menengah itu seperti jadi roti bakar di tengah toaster. Kanan panas, kiri panas, atas bawah juga ikut matang.
Dalam Islam, kegelisahan tentang masa depan sebenarnya bukan hal baru. Manusia memang sering takut pada hari esok. Takut rezeki mengecil. Takut harga kebutuhan naik. Takut tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini bukan berarti kita diminta duduk diam sambil menunggu mukjizat jatuh dari langit seperti promo gratis ongkir. Islam tetap mengajarkan ikhtiar, kerja keras, dan perencanaan hidup. Tetapi ayat itu mengingatkan bahwa rezeki tidak pernah hanya berasal dari logika manusia.
Masalahnya, dunia modern membuat manusia terlalu percaya pada angka. Gaji sekian dianggap aman. Tabungan sekian dianggap cukup. Padahal sejarah menunjukkan bahwa ekonomi bisa berubah sangat cepat. Tahun ini orang merasa nyaman, tahun depan tiba-tiba biaya hidup melonjak. Harga pangan bisa naik karena cuaca, konflik global, distribusi, atau permainan pasar.
Bayangkan Indonesia tahun 2029 jika harga pangan benar-benar semakin mahal. Beras naik drastis. Daging menjadi barang mewah. Sayuran ikut melonjak karena cuaca ekstrem. Masyarakat mungkin masih bisa bertahan, tapi kualitas hidup perlahan menurun. Orang mulai mengurangi makan sehat.
Banyak keluarga menekan pengeluaran pendidikan. Liburan menjadi kemewahan langka. Bahkan secangkir kopi di kafe bisa terasa seperti keputusan finansial besar.
Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan sekadar kemiskinan, melainkan hilangnya rasa tenang.
Ada orang yang masih punya uang, tetapi hidupnya penuh kecemasan. Setiap buka aplikasi mobile banking, jantung berdetak lebih cepat daripada notifikasi mantan tiba-tiba muncul setelah tiga tahun menghilang.
Kita hidup di zaman ketika harga kebutuhan naik lebih cepat daripada kenaikan rasa sabar manusia.
Tokoh ekonomi dunia seperti Warren Buffett pernah mengatakan:
“Only when the tide goes out do you discover who’s been swimming naked.”
Kalimat itu terasa relevan untuk kondisi ekonomi. Saat keadaan masih baik, semua tampak aman. Namun ketika inflasi datang, baru terlihat siapa yang punya kesiapan, siapa yang hanya hidup dari gengsi.
Banyak orang hari ini terlihat kaya di media sosial, padahal hidupnya ditopang cicilan. Mobil cicilan. Ponsel cicilan. Liburan cicilan. Bahkan mungkin senyum juga tinggal dicicil kalau bisa.
Padahal Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang pentingnya kesederhanaan. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.”
(HR. Muslim)
Merasa cukup adalah kemewahan paling mahal di era modern.
Kita sering berpikir solusi ekonomi hanyalah menambah penghasilan. Padahal kadang masalah terbesar manusia bukan kurang uang, melainkan gaya hidup yang terus membesar. Ketika penghasilan naik, standar hidup ikut naik. Akhirnya tetap saja merasa kurang.
Indonesia 2029 mungkin akan menjadi masa ketika masyarakat mulai sadar bahwa ketahanan finansial lebih penting daripada pencitraan sosial. Orang mulai memilih menanam sayur sendiri. Mulai belajar investasi. Mulai punya penghasilan tambahan digital. Mulai sadar bahwa pekerjaan tetap belum tentu benar-benar tetap.
Di sisi lain, ada ancaman yang lebih sunyi: tekanan mental.
Kelas menengah sering memikul ekspektasi besar. Harus sukses. Harus membantu orang tua. Harus punya rumah. Harus menikah mapan. Harus terlihat baik-baik saja. Akhirnya banyak orang lelah secara batin tetapi tetap tersenyum karena cicilan tidak bisa dibayar pakai air mata.
Padahal dalam Islam, manusia tidak diukur dari kemewahan hidupnya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Masalahnya, dunia sekarang sering mengukur nilai manusia dari merek sepatu, isi garasi, atau tempat nongkrong favorit. Orang sederhana dianggap gagal, padahal bisa jadi hatinya jauh lebih tenang daripada mereka yang hidup penuh pamer.
Tokoh Muslim terkenal Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Bukan kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan di era algoritma media sosial. Setiap hari kita melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia. Akhirnya tanpa sadar kita membandingkan hidup sendiri terus-menerus.
Padahal bisa jadi orang yang terlihat santai di Instagram sedang panik membayar tagihan kartu kredit.
Indonesia ke depan membutuhkan masyarakat yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga matang secara mental dan spiritual. Sebab inflasi bisa menyerang dompet, tetapi rasa syukur bisa menjaga jiwa tetap waras.
Mungkin itulah mengapa dalam Islam, konsep syukur selalu diulang berkali-kali. Karena manusia mudah lupa bahwa hidup tidak selalu tentang menambah, tetapi juga menjaga apa yang sudah ada.
Jika 2029 benar-benar membawa tantangan ekonomi besar, mungkin kita perlu kembali belajar hal-hal sederhana:
Makan secukupnya.
Belanja seperlunya.
Menabung meski sedikit.
Tidak gengsi hidup sederhana.
Dan tidak menjadikan standar media sosial sebagai ukuran kebahagiaan.
Ada sesuatu yang ironis di zaman modern. Teknologi semakin canggih, tetapi manusia semakin mudah cemas. Padahal nenek moyang kita dulu hidup lebih sederhana, tetapi masih bisa tertawa lepas hanya karena kopi dan pisang goreng di teras rumah.
Sekarang? WiFi lemot lima menit saja sudah terasa seperti ujian kesabaran tingkat nasional.
Namun mungkin memang begitulah hidup. Setiap zaman punya tantangannya sendiri.
Yang terpenting bukan apakah masa depan akan sulit atau mudah, melainkan apakah hati kita cukup kuat menghadapinya.
Karena pada akhirnya, ekonomi bisa naik turun. Harga pangan bisa berubah. Nilai rupiah bisa bergejolak. Tetapi manusia yang punya iman, ketenangan, dan kemampuan beradaptasi akan tetap menemukan cara bertahan.
Indonesia 2029 mungkin akan menjadi masa penuh ujian bagi kelas menengah. Tapi bisa juga menjadi titik kebangkitan masyarakat yang lebih sadar tentang makna hidup, keuangan, dan rasa cukup.
Dan mungkin, di tengah mahalnya harga kebutuhan nanti, kita akan kembali menyadari satu hal penting:
Bahwa ketenangan ternyata jauh lebih berharga daripada sekadar kemewahan.

