RIZKNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki awal tahun baru Islam di bulan Muharram, umat Muslim di seluruh dunia bersiap menyambut dua ibadah sunah yang sangat dianjurkan (sunah muakkadah), yakni Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura. Kedua puasa ini dilaksanakan berturut-turut pada tanggal 9 dan 10 Muharram, yang memuat keutamaan besar berupa penghapusan dosa setahun yang lalu.
Melirik dari catatan sejarahnya, Puasa Asyura (10 Muharram) awalnya merupakan ibadah yang sudah dikenal luas oleh kaum Quraisy pada zaman jahiliah, serta dijalankan oleh kaum Yahudi di Madinah sebagai bentuk syukur atas penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah dan melihat kaum Yahudi berpuasa, beliau bersabda bahwa umat Islam lebih berhak atas Nabi Musa, sehingga beliau memerintahkan umatnya untuk berpuasa Asyura.
BACA JUGA >>> Sejarah Puasa Tarwiyah-Arafah Jelang Idul Adha 1447 H: Lengkap dengan Keutamaan, Tata Cara, dan Bacaan Niat
Namun, demi membedakan ritual ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi (tasyabbuh), Rasulullah SAW kemudian berniat untuk turut melaksanakan Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram di tahun berikutnya. Meski beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya, anjuran untuk mengiringi puasa tanggal 10 dengan tanggal 9 Muharram ini tetap menjadi sunah yang dipegang teguh oleh para sahabat dan ulama hingga saat ini.
Bagi Anda yang hendak mengamalkan kedua puasa sunah ini, berikut adalah bacaan niat yang dapat dilafalkan, baik di dalam hati maupun secara lisan:
1. Bacaan Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram)
Niat ini dibaca pada malam hari sebelum terbit fajar menjelang tanggal 9 Muharram:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُوعَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى
-
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.
-
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasu’a esok hari karena Allah Ta’ala.”
2. Bacaan Niat Puasa Asyura (10 Muharram)
Niat ini dibaca pada malam hari sebelum terbit fajar menjelang tanggal 10 Muharram:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْعَاشُورَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى
-
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil Âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
-
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Ta’ala.”
Catatan Tambahan: Karena kedua puasa ini merupakan ibadah sunah, jika Anda lupa membaca niat pada malam hari, Anda tetap diperbolehkan membaca niat di siang hari (sebelum masuk waktu Zuhur) dengan catatan belum ada mengonsumsi makanan, minuman, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.
Berdasarkan kalender resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan pertengahan tahun kalender masehi 2026.
Dengan demikian, bagi umat Muslim di Indonesia yang ingin meraih keutamaan penuh dari kedua puasa sunah ini, pelaksanaan Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram) dijadwalkan jatuh pada pertengahan bulan Juli 2026 mendatang.
Para ulama kontemporer juga mengingatkan bahwa esensi dari bulan Muharram bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus melalui puasa. Muharram adalah salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan), di mana setiap amal kebaikan yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.
Sebaliknya, kemaksiatan atau kezaliman yang diperbuat pada bulan ini juga memiliki timbangan dosa yang lebih berat.
Oleh karena itu, selain menjalankan Puasa Tasu’a dan Asyura, umat Muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan pendukung lainnya. Mulai dari memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, memperpanjang tadarus Al-Qur’an, hingga menjaga lisan dari berselisih.
Menjadikan momentum Muharram sebagai ajang refleksi dan hijrah spiritual menuju pribadi yang lebih baik adalah kunci utama dalam menyongsong tahun yang baru.


1 Komentar
Pingback: Penting bagi Umat Muslim, Ini Sejarah Lengkap dan Bacaan Niat Puasa Tasu’a-Asyura di Bulan Muharram - SiNews