JEDDAH โ Johor Darul Ta’zim (JDT) dipastikan gagal melangkah ke babak semifinal Liga Champions musim ini setelah menelan kekalahan tipis dalam pertandingan krusial melawan raksasa Arab Saudi, Al Ahli. Meskipun Al Ahli terpaksa menyelesaikan pertandingan dengan hanya 10 pemain di lapangan, tim asal Malaysia tersebut tetap tidak mampu membalikkan keadaan hingga peluit panjang dibunyikan.
Al Ahli menunjukkan dominasi serta mentalitas juara sejak menit awal pertandingan, yang memaksa lini pertahanan JDT bekerja ekstra keras menahan gempuran tuan rumah. Sebuah insiden kartu merah yang menimpa salah satu pemain pilar Al Ahli sempat membuka harapan bagi JDT untuk menguasai jalannya laga, namun organisasi permainan yang solid dari tuan rumah justru menjadi tembok tebal bagi lawan.
Kekalahan ini mengakhiri perjalanan impresif JDT di kompetisi kasta tertinggi antarklub Asia musim ini, sekaligus mempertegas dominasi klub-klub asal Timur Tengah di kancah internasional. Evaluasi mendalam diperkirakan akan dilakukan oleh jajaran manajemen JDT guna meningkatkan performa tim dalam menghadapi persaingan regional di masa mendatang.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion King Abdullah Sports City tersebut berjalan dengan intensitas tinggi sejak kick-off. Al Ahli berhasil unggul lebih dulu lewat serangan balik cepat yang memanfaatkan kelengahan barisan belakang JDT. Keunggulan tersebut bertahan hingga jeda, meskipun tim tamu mencoba menekan lewat penguasaan bola di area tengah.
Memasuki babak kedua, situasi sempat memanas ketika wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada bek tengah Al Ahli setelah melakukan pelanggaran keras di depan kotak penalti. Namun, defisit jumlah pemain justru membuat Al Ahli menerapkan strategi parkir bus yang sangat disiplin. JDT yang memasukkan beberapa pemain bertipe menyerang tetap kesulitan menembus blokade rendah yang diterapkan tuan rumah.
Hasil ini membuat Al Ahli akan menghadapi pemenang antara laga perwakilan Jepang dan Korea Selatan di babak empat besar. Sementara itu, bagi JDT, kegagalan ini menjadi pelajaran berharga dalam sejarah partisipasi mereka di Liga Champions, di mana ketajaman penyelesaian akhir menjadi aspek krusial yang perlu diperbaiki jika ingin bersaing di level tertinggi Asia.

