JAKARTA, RIZKNEWS.COM – Jagat raya kembali menyuguhkan pertunjukan visual yang memukau sekaligus memicu rasa penasaran di penghujung bulan Mei 2026. Para pengamat langit dan pencinta astronomi di seluruh dunia kini tengah bersiap menyambut kehadiran fenomena langka yang dikenal dengan sebutan Blue Moon (Bulan Biru).
Kemunculan satelit alami bumi dalam fase penuh untuk kedua kalinya dalam satu bulan kalender yang sama ini langsung memicu berbagai diskusi hangat di ruang publik, mulai dari aspek sains hingga mitos yang menyelimutinya.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan agar masyarakat tidak salah paham: jangan berharap Anda akan melihat bulan yang mendadak berubah warna menjadi biru safir atau cerulean saat menengadah ke langit.
BACA JUGA >>> NASA Pastikan Asteroid Apophis Tidak Mengancam Bumi pada 2029
Istilah Blue Moon yang ramai diperbincangkan saat ini murni merupakan istilah penangalan (kalender) astronomi, bukan deskripsi warna visual dari bulan itu sendiri.
Uniknya lagi, fenomena kali ini hadir dengan gelar ganda yang sangat tidak biasa, karena bertepatan juga dengan fenomena Micromoon (Bulan Mikro), menjadikannya salah satu peristiwa langit paling menarik di tahun 2026.
Mei 2026 menjadi bulan yang sangat istimewa bagi para pengamat langit karena menghadirkan dua kali fase bulan purnama penuh dalam jangka waktu 30 hari.
Purnama pertama, yang secara tradisional dikenal dengan nama Flower Moon (Bulan Bunga), telah menghiasi langit pada tanggal 1 Mei. Kini, tepat pada tanggal 31 Mei, langit malam akan kembali diterangi oleh purnama kedua yang secara otomatis menyandang status sebagai Monthly Blue Moon.
Peristiwa dua purnama dalam satu bulan kalender ini tergolong jarang terjadi dan biasanya hanya berulang sekitar 2,5 hingga 3 tahun sekali.
Secara ilmiah, Blue Moon terjadi karena ketidakcocokan durasi antara kalender masehi bumi dengan siklus fase bulan. Satu siklus lunar penuh (dari bulan baru ke bulan baru berikutnya) membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari.
Karena mayoritas bulan dalam kalender kita memiliki 30 atau 31 hari, maka akumulasi sisa hari tersebut sesekali memicu hadirnya purnama ekstra di penghujung bulan.
Sementara itu, istilah Micromoon merujuk pada kondisi di mana bulan purnama terjadi saat posisi bulan berada di titik terjauhnya dari bumi dalam lintasan orbitnya yang berbentuk elips (titik apogee).
Akibat jarak yang menjauh hingga lebih dari 251.665 mil (sekitar 405.000 km), bulan akan tampak sekitar 14% lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan saat fenomena Supermoon terjadi.
Meskipun ukuran visualnya tampak mengecil dari perspektif pengamat di bumi, Micromoon tetap membawa dampak fisik yang nyata pada sistem bumi-bulan. Gabungan antara fase purnama (Full Moon) dan posisi apogee ini memengaruhi kekuatan tarikan gravitasi terhadap samudra.
Dampak langsung yang ditimbulkan adalah terjadinya fenomena pasang surut air laut yang dikenal sebagai spring tides. Namun, karena posisi bulan sedang berada di titik terjauh (Micromoon), variasi ketinggian pasang air laut kali ini tercatat sekitar 2 inci (sekitar 5 cm) lebih rendah jika dibandingkan dengan pasang purnama pada kondisi jarak bulan yang normal.
Bagi Anda yang tidak ingin melewatkan momen langka ini, solusi terbaik untuk menikmatinya adalah dengan melakukan pengamatan sesaat setelah matahari terbenam pada malam tanggal 30 Mei atau dini hari tanggal 31 Mei.
Carilah lokasi terbuka yang memiliki pandangan bebas hambatan ke arah horison timur dan minim polusi cahaya. Anda tidak memerlukan teleskop mahal; fenomena ini sangat aman dan indah dilihat langsung dengan mata telanjang.
Namun, bagi para fotografer yang ingin menangkap detail permukaan kawah (maria) atau ingin membuktikan perbedaan ukuran Micromoon ini, penggunaan alat bantu seperti lensa tele, tripod statis, atau bantuan binokular sangat disarankan untuk menjaga stabilitas gambar.
Tahukah Anda dari mana asal-usul istilah Blue Moon yang sebenarnya? Penyelidikan sejarah astronomi menunjukkan bahwa istilah ini populer akibat sebuah kesalahan interpretasi editorial yang tidak sengaja dicetak dalam majalah Sky & Telescope pada edisi tahun 1946.
Artikel tersebut salah mengartikan definisi tradisional Blue Moon versi musiman (purnama ketiga dalam satu musim yang memiliki empat purnama) menjadi definisi bulanan yang kita kenal sekarang.
Kesalahan tersebut justru “viral” dan diadopsi secara luas oleh media massa global pada dekade 1980-an hingga akhirnya dianggap sebagai kebenaran alternatif dalam sains populer saat ini.
Kapan Bulan Benar-Benar Bisa Berubah Warna Menjadi Biru?
Meski secara astronomis bulan tidak berubah warna, dalam catatan sejarah atmosfer bumi, bulan literal berwarna biru keabu-abuan atau hijau pernah benar-benar terjadi.
Fenomena langka ini hanya bisa terjadi akibat dampak dari bencana alam berskala masif, seperti letusan dahsyat Gunung Krakatoa di Indonesia pada tahun 1883 atau kebakaran hutan hebat di Alberta, Kanada pada tahun 1950.
Polusi partikel abu dan aerosol berukuran tepat 1 mikron yang terlempar hingga ke lapisan stratosfer bertindak sebagai filter alami yang menghamburkan spektrum cahaya merah dan meloloskan cahaya biru murni ke mata manusia.

