RIZKNEWS.COM, DELI SERDANG — Sebuah insiden memilukan mewarnai pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Sekolah Dasar tahun 2026. Tangis seorang siswi SD pecah seketika akibat dirinya gagal menyelesaikan pengerjaan soal-soal kompetisi bergengsi tersebut.
Kegagalan ini terjadi bukan karena ketidaksiapan materi, melainkan akibat dari padamnya aliran listrik serta terputusnya jaringan internet secara mendadak di lokasi ujian.
Kejadian yang sangat disayangkan ini langsung memicu simpati sekaligus gelombang kekecewaan dari berbagai pihak. Sang siswi yang telah mempersiapkan diri berbulan-bulan demi membawa nama baik sekolah dan daerahnya, terpaksa harus mengubur mimpinya di tengah jalan hanya karena kendala infrastruktur teknis yang tidak berpihak padanya.
Pelaksanaan OSN 2026 berbasis digital yang seharusnya menjadi panggung unjuk prestasi bagi siswa-siswi terbaik bangsa justru berubah menjadi momen traumatis bagi seorang peserta didik tingkat dasar.
Gangguan suplai daya listrik dari PLN yang diikuti dengan hilangnya sinyal provider internet secara total di tengah durasi pengerjaan soal, secara otomatis mengeluarkan sistem (log-out) peserta dari server pusat OSN tanpa sempat menyimpan hasil jawaban.
Secara teknis, sistem OSN berbasis daring memerlukan sinkronisasi real-time yang stabil antara gawai peserta dengan server Kementerian Pendidikan. Ketika listrik padam secara mendadak, perangkat pemancar Wi-Fi lokal mati seketika.
Meskipun beberapa laptop memiliki daya baterai cadangan, ketiadaan jaringan internet lokal maupun seluler akibat menara pemancar (BTS) terdekat ikut terdampak pemadaman listrik membuat aplikasi ujian mengalami gagal koneksi (connection timeout) dan mengunci akses peserta secara permanen.
Dampak dari insiden ini sangat masif, terutama pada aspek psikologis anak. Rasa kecewa yang mendalam menimbulkan trauma emosional pada siswi tersebut, yang berpotensi menurunkan motivasi belajarnya di masa depan.
Selain merugikan hak akademis siswa secara tidak adil, insiden ini juga mencoreng kredibilitas penyelenggaraan kompetisi nasional serta menunjukkan potret nyata ketimpangan kesiapan infrastruktur digital antar-wilayah di Indonesia.
Guna mengantisipasi terulangnya tragedi serupa, redaksi RIZKNEWS merangkum beberapa langkah strategis yang wajib segera diambil oleh para pemangku kebijakan. Pertama, dari segi sistem penyelenggaraan, kementerian terkait harus menyediakan skema ujian cadangan berbasis offline mode agar data jawaban siswa otomatis tersimpan secara lokal di perangkat dan baru tersinkronisasi ke server pusat saat jaringan pulih.
Kedua, penguatan infrastruktur sekolah mutlak diperlukan dengan mewajibkan setiap titik lokasi ujian dilengkapi fasilitas generator set (genset) atau Uninterruptible Power Supply (UPS), serta modem internet cadangan dari provider berbeda demi menjamin kontinuitas daya dan koneksi.
Terakhir, panitia pusat harus menerapkan kebijakan afirmatif berupa pemberian kompensasi jadwal ujian susulan khusus bagi peserta yang terbukti mengalami kegagalan akibat faktor force majeure non-teknis seperti ini.

