RIZKNEWS.com, LABUSEL โ Suara lantang warga Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), yang sebelumnya gencar menyuarakan aksi pemberantasan narkoba kini mendadak senyap. Redupnya gerakan “Tumpas Narkoba” yang sempat viral dan mendapat dukungan luas ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: siapa sebenarnya yang sedang membungkam suara rakyat?
Padahal, beberapa waktu lalu, gelombang protes dan tuntutan agar aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap para bandar narkoba di wilayah tersebut sangat masif. Warga seolah tidak takut lagi berhadapan dengan jaringan gelap demi menyelamatkan generasi muda dari jeratan barang haram tersebut.
Namun, pantauan di lapangan dalam sepekan terakhir menunjukkan pemandangan yang kontras. Posko-posko perlawanan yang dulu ramai kini tampak sepi, dan tokoh-tokoh masyarakat yang biasanya vokal mendadak memilih untuk menutup mulut.
“Kami heran, kemarin semua semangat sekali. Sekarang mau bicara narkoba saja orang-orang seperti ketakutan,” ungkap salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Kondisi ini menimbulkan spekulasi adanya tekanan dari pihak tertentu atau bahkan ancaman dari jaringan pengedar yang merasa terganggu dengan aksi tumpah narkoba tersebut. Belum adanya pernyataan resmi dari kepolisian setempat terkait kelanjutan operasi pemberantasan di titik-titik rawan semakin menambah keresahan warga.
Warga kini hanya bisa berharap agar semangat pemberantasan narkoba tidak padam begitu saja. Mereka menunggu kehadiran nyata dari pihak berwajib untuk kembali membakar keberanian masyarakat dalam melawan peredaran gelap narkotika di Kampung Rakyat.
Gerakan akar rumput dalam memberantasan narkoba di wilayah pedesaan seringkali menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan di area perkotaan. Di Kampung Rakyat, aksi ini awalnya muncul sebagai bentuk kejengkelan kolektif atas rusaknya moralitas dan meningkatnya angka kriminalitas jalanan yang dipicu oleh kecanduan narkoba.
Redupnya suara warga seringkali disebabkan oleh pola “intimidasi senyap”. Para bandar atau oknum yang terlibat biasanya tidak melakukan kekerasan fisik secara terbuka, melainkan menyebar teror psikologis atau memanfaatkan relasi kuasa di tingkat lokal untuk menekan para penggerak aksi. Selain itu, kelelahan sosial (social fatigue) bisa terjadi jika aksi yang dilakukan warga tidak kunjung mendapat respons konkret atau perlindungan dari aparat keamanan.
Jika aksi tumpas narkoba ini benar-benar berhenti total tanpa ada penyelesaian, dampaknya akan sangat fatal. Para pengedar akan merasa “di atas angin” dan semakin berani melakukan transaksi secara terang-terangan. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan merosot tajam, yang berpotensi memicu aksi main hakim sendiri di masa depan karena warga merasa jalur aspirasi mereka telah dibungkam.
Langkah pertama yang harus diambil adalah penguatan instansi intelijen kepolisian untuk memetakan sumber intimidasi terhadap warga. Pihak kepolisian perlu membangun kembali “Jalur Komunikasi Aman” di mana warga bisa melapor tanpa takut identitasnya bocor. Selain itu, kehadiran patroli rutin dan posko keamanan terpadu yang diisi oleh personel TNI-Polri di titik rawan sangat diperlukan untuk memberikan rasa aman fisik kepada warga agar mereka kembali berani bersuara.

