PEMATANGSIANTAR, RIZKNEWS.COM — Tak mau ketinggalan kereta di era digital, sebanyak 100 guru di Kota Pematangsiantar tumpah ruah mengikuti program pelatihan intensif “MaBar” alias Main Bareng sambil belajar Hour of Code & Hour of AI. Kegiatan yang diinisiasi oleh Benih Foundation bersama Alkademi ini bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam penguasaan Computational Thinking guna mencetak generasi emas yang melek teknologi.
Program satu hari penuh ini dirancang sebagai langkah nyata memperkuat peran guru sebagai agen perubahan di sekolah. Menggandeng Alkademi sebagai mitra pelaksana serta didukung penuh oleh Microsoft Elevate dan Paragoncorp, aksi edukasi ini dipusatkan di SMK GKPS 2 Pematangsiantar, Sabtu (9/5/2026) mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.
Jawab Tantangan Zaman, Hapus Kesan “Coding itu Serem”
Dunia pendidikan saat ini memang sedang diuji. Masih banyak guru dan siswa yang merasa ngeri mendengar istilah coding atau kecerdasan buatan (AI). Padahal, di masa sekarang, Computational Thinking (CT) sudah jadi harga mati sebagai literasi dasar setara membaca dan berhitung. CT melatih pola pikir agar lebih logis, terstruktur, dan jago mencari solusi masalah.
Hadirnya program ini menjadi jembatan untuk menghapus jurang ketidaktahuan tersebut. Pelatihan dikemas secara praktis, visual, dan gampang dicerna. Harapannya, teknologi tak lagi dianggap musuh, melainkan kawan yang menyenangkan bagi para tenaga pendidik di lapangan.
Tiga Modul Inti: Dari Logika Hingga Jaga Laut Pakai AI

Selama sehari penuh, para pahlawan tanpa tanda jasa ini digembleng dengan tiga agenda utama:
-
Pukul 09.00 – 11.00 WIB: Materi 21st Century Skills & Computational Thinking. Di sini guru diajak membangun logika lewat unplugged activity—belajar logika keren meski tanpa komputer.
-
Pukul 11.00 – 12.00 WIB: Masuk ke Hour of Code: Minecraft Adventurer. Peserta langsung tancap gas mempraktikkan algoritma lewat coding visual berbasis blok yang seru mirip main game.
-
Pukul 13.00 – Selesai: Sesi Hour of AI: AI for Ocean. Guru diajak memahami bagaimana mesin belajar dari data, sekaligus ditekankan agar menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab.
“Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat guru agar lebih adaptif, terstruktur, dan siap mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Guru bukan sekadar penerima perubahan, mereka adalah penggerak utamanya,” tegas pihak Benih Foundation.
Seratus Guru dari 15 Unit Kerja Unjuk Gigi
Semangat belajar ini terpancar dari 100 peserta yang berasal dari 15 unit kerja di bawah naungan Yayasan Pendidikan GKPS. Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga pengurus asrama ikut ambil bagian. Tercatat, SD GKPS Saribudolok mengirim delegasi terbanyak dengan 27 peserta, disusul SMA GKPS 1 Pamatang Raya (13 orang), SMK GKPS 1 Raya (12 orang), dan tuan rumah SD GKPS 2 Pematangsiantar (10 orang).
Menariknya, pelatihan ini sangat inklusif. Tak cuma guru bidang studi umum, guru BK, guru inklusi (GPK), hingga kepala sekolah dan wakil kepala sekolah urusan kurikulum pun ikut berbaur mendalami teknologi masa depan ini.
Targetkan Dampak Luas ke 2.000 Siswa
Tak berhenti di ruangan pelatihan saja, setiap peserta punya “PR” mulia. Mereka berkomitmen menyusun RPP singkat yang menyisipkan unsur Computational Thinking dan wajib menularkan ilmu tersebut kepada minimal 20 rekan sejawat lainnya. Lewat efek bola salju ini, diharapkan lebih dari 2.000 pendidik bisa merasakan manfaat program ini secara tidak langsung.
Kegiatan ini pun bertabur tokoh penting sebagai narasumber, di antaranya Ephorus GKPS Pdt John Christian Saragih STh MSc, Sekretaris Yayasan Pendidikan GKPS Pdt Jhon Martin Damanik, Regional Lead Sumut Benih Foundation Obertina Girsang, dan Chief Education Officer Bharabas Camp Hanif Fajri.
Dukungan Penuh dari Tokoh Agama dan Akademisi
Langkah maju ini mendapat apresiasi jempolan dari para undangan yang hadir. Ephorus GKPS, Pdt John Christian Saragih menekankan pentingnya teknologi dalam pelayanan.
“Pelatihan Microsoft Elevate bersama Benih Foundation ini sangat mendukung pelayanan pendidikan GKPS. Dengan pemahaman digital dan AI yang baik, pelayanan pendidikan dan gereja dapat semakin maju dan menjadi berkat dalam mendukung penyebaran firman Tuhan di zaman digital,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Semaria Eva Elita Girsang MPd dari Universitas Simalungun (USI) pun berharap virus positif ini menular ke perguruan tinggi. “Kami berharap program serupa bisa menyentuh civitas akademika di USI kedepannya,” harapnya.
Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun memiliki basis pendidikan yang kuat di bawah naungan yayasan-yayasan besar seperti GKPS. Namun, akses terhadap pelatihan teknologi tingkat lanjut seringkali masih terpusat di kota-kota besar seperti Medan atau Jakarta. Benih Foundation memilih lokasi ini untuk memastikan bahwa guru-guru di wilayah rural dan penyangga tetap memiliki kompetensi yang kompetitif.
Selain itu, pemilihan metode “Minecraft” dan “AI for Ocean” bukan tanpa alasan. Metode ini dipilih karena sangat interaktif untuk siswa usia sekolah dasar hingga menengah. Dengan mengajarkan guru cara “bermain” sambil belajar, diharapkan suasana kelas di sekolah-sekolah GKPS nantinya menjadi lebih hidup, modern, dan tidak membosankan bagi generasi Alpha yang sangat akrab dengan gadget. (RN-Obertina)
Source: PosMetro

