RIZKNEWS.COM, DELI SERDANG โ Pemerintah Kabupaten Deli Serdang secara resmi menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah optimalisasi pelaksanaan program Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR). Komitmen lintas sektoral ini ditegaskan sebagai bagian dari upaya kolektif guna membangun karakter generasi muda yang tangguh, bermoral, dan berdaya saing tinggi di tingkat wilayah.
Dukungan nyata ini mengemuka dalam agenda monitoring dan evaluasi yang menyasar langsung Kecamatan Percut Sei Tuan. Melalui kehadiran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) kabupaten, pemerintah daerah berkomitmen memastikan instrumen pengasuhan berbasis keluarga ini dapat berjalan efektif dan menyentuh kluster masyarakat hingga tingkat desa.
Langkah penguatan ini dinilai menjadi instrumen penting mengingat Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu wilayah dengan dinamika demografi yang sangat tinggi di Deli Serdang. Penanganan pola asuh yang tepat di kawasan ini diharapkan mampu menjadi pilot project bagi wilayah-wilayah kecamatan lainnya.
Pemerintah daerah juga menekankan bahwa keberhasilan Program PAAR tidak dapat bertumpu pada peran satu instansi saja, melainkan membutuhkan sinergi yang harmonis antara kader PKK, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, serta kesadaran aktif dari orang tua di lingkungan rumah tangga masing-masing.
Melalui optimalisasi program yang terstruktur ini, Pemkab Deli Serdang menargetkan penurunan komprehensif terhadap potensi deviasi sosial pada anak dan remaja, sekaligus menciptakan lingkungan ramah anak yang aman, edukatif, dan kondusif bagi tumbuh kembang mereka.
Program Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR) dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang merupakan gerakan nasional yang diinisiasi oleh PKK guna membentengi institusi keluarga dari dampak negatif globalisasi.
Kecamatan Percut Sei Tuan, yang berbatasan langsung dengan wilayah urban Kota Medan, memiliki karakteristik sosiologis yang kompleks dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Deli Serdang.
Kondisi peralihan dari sub-urban menuju urban ini menuntut adanya intervensi ketahanan keluarga yang lebih masif dibandingkan wilayah agraria lainnya.
Secara operasional, penjelasan mengenai optimalisasi Program PAAR ini bertumpu pada tiga kluster utama pembinaan. Pertama, edukasi pemenuhan hak anak dan perlindungan hukum sejak dini.
Kedua, penanaman nilai keagamaan, gotong royong, dan literasi digital guna menyaring paparan konten negatif internet. Ketiga, pelatihan deteksi dini kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta pelecehan seksual terhadap anak.
Kader PKK di tingkat desa dilatih menjadi konselor perdana yang bertugas menyosialisasikan pola komunikasi asertif antara orang tua dan anak remaja.
Dampak jangka panjang dari keberhasilan standarisasi PAAR ini akan sangat terasa pada penurunan grafik angka kriminalitas jalanan yang melibatkan anak di bawah umur, seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan geng motor di wilayah Percut Sei Tuan.
Secara psikologis, anak-anak yang tumbuh dalam ekosistem keluarga yang menerapkan PAAR akan memiliki kecerdasan emosional yang matang.
Dampak makronya, indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Deli Serdang secara kualitatif akan meningkat seiring lahirnya generasi emas yang kompeten.
Guna mengatasi keterbatasan jangkauan kader di lapangan, solusi taktis-institusional yang harus ditempuh adalah mempercepat pembentukan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hingga ke tingkat desa dan kelurahan di Percut Sei Tuan.
Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan program ini dengan layanan konseling berbasis digital (aplikasi/hotline) yang dapat diakses secara konfidensial oleh orang tua. Langkah solusi integratif ini memastikan setiap keluarga yang mengalami disfungsi pengasuhan dapat segera mendapatkan asistensi psikolog atau pekerja sosial profesional sebelum terjadi eskalasi masalah. (RN-AHsb)

