SIANTAR, RIZKNEWS – Kelangkaan deterjen cair merek SoKlin Liquid mulai menghantui warga Kota Pematangsiantar dan sekitarnya. Pantauan di sejumlah pasar grosir, stok pembersih pakaian ini kian menipis. Tak pelak, kondisi ini membuat para ibu rumah tangga (IRT) dan pedagang eceran mulai mengeluh karena sulitnya mendapatkan barang di pasaran.
Hingga saat ini, rak-rak penyimpanan di grosir besar tampak lengang. Kelangkaan ini diduga sudah terjadi sejak beberapa hari belakangan. Akibatnya, para konsumen pun terpaksa harus berkeliling dari satu toko ke toko lain hanya untuk mencari stok deterjen tersebut.
Keresahan ini paling dirasakan oleh kaum ibu. Mereka mengaku kebingungan karena SoKlin Liquid sudah menjadi kebutuhan pokok untuk urusan cuci-mencuci di rumah. Sementara itu, para pedagang eceran juga mengaku pusing karena pasokan dari distributor tak kunjung datang, sehingga mereka tidak bisa melayani pembeli seperti biasanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim di lapangan, menipisnya stok di kawasan Pematangsiantar dan Simalungun ini diduga kuat karena adanya hambatan logistik dari pusat distribusi. Beberapa pemilik grosir di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka menyebutkan bahwa kiriman yang biasanya rutin masuk setiap pekan, kini tertunda tanpa alasan yang jelas. Antrean pengambilan barang di tingkat agen besar pun terlihat lebih panjang dari biasanya.
Pihak distributor ditengarai sedang melakukan penyesuaian stok atau re-stocking besar-besaran, namun permintaan masyarakat di awal bulan justru meningkat tajam. SoKlin Liquid merupakan produk yang sangat diminati di Siantar karena dianggap praktis dan wanginya cocok dengan selera warga lokal. Ketidakseimbangan antara kecepatan produksi di pabrik dengan kecepatan distribusi ke daerah menjadi pemicu utama barang ini “gaib” di pasar grosir.
Dampak dari kelangkaan ini mulai dirasakan pada stabilitas harga. Di tingkat kedai sampah atau warung kelontong, harga eceran SoKlin Liquid mulai naik sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kemasan. Selain itu, para pengusaha laundry di Siantar juga mulai menjerit karena biaya produksi mencuci meningkat drastis, sementara mereka tidak bisa menaikkan tarif jasa cuci secara mendadak kepada pelanggan.
Menyikapi hal ini, warga diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying) yang bisa semakin merusak harga pasar. Solusi praktis bagi warga adalah menggunakan produk deterjen alternatif atau kembali menggunakan deterjen bubuk sementara waktu hingga distribusi kembali normal. Pemerintah melalui Dinas Koperindag diharapkan segera turun tangan melakukan pengecekan ke gudang-gudang besar guna memastikan tidak ada praktik penimbunan oleh oknum nakal.

